Rabu, 18 juli 2001.
Salahsatu hari yg paling kuingat sepanjang hidup sampai saat ini.
Sad memory.
Salahsatu titik terendah dalam hidup.
.
.
.
Sedih menceritakannya kembali... Tapi biarlah.
Perpisahan adalah hal yg paling aku benci.
Keceriaan di siang hari pada penutupan MOS di SMP (saat itu aku kelas 3) berubah menjadi sebuah momen paling menyedihkan dalam hidup.
Beberapa saat di penghujung acara, tiba2 aku dipanggil guru.
Guru: dek, sini. Kamu pulang dulu ya, ada yg jemput itu mas2 di depan. Dewi (sepupu) mana? Ajak pulang skalian.
Aku: ada apa y pak? Lha acaranya gmn? Saya jd ketua panitianya e.
Guru: dah gpp, biar bapak n teman2 kamu yg handle nanti. Tidak perlu kuatir. Sepeda kamu tinggal di sekolahan saja y.
Aku: oh nggeh pak. Terimakasih.
Ternyata mas2 kampung jemput. 4 orang. Naik 2 sepeda motor.
Mas Sri: ndang bonceng.!
Aku: ono opo mas?
Diam...tanpa kata.
Tanpa disuruh lg aku dan dewi juga turut naik kendaraan. Cenglu. Bonceng wong telu.
Sepanjang perjalanan tanpa kata. Hanya aku inget mereka ngobrolin nomor togel yg keluar td malam.
Tanpa berpikir apa2, ah sudahlah..
Mendekati rumah, sayup2 suara tetangga dan saudara ko ramai memadati rumah.
Ada apa ini???
Deg,
Deg,
Deg,
Detak jantung semakin memacu...
Seseorang mendekatiku pelan2,
"Bapak wafat le, sing ikhlas sing sabar...."
(Aku nulis ini sampai berlinang airmata)
Lemas...
Bisu...
.
.
.
Mencoba kuat, tapi....tidak bisa....
Maaf belum bisa membahagiakanmu Pak,.
Tp yakinlah, emak bakal tak bahagiain bagaimanapun caranya nanti...
Semoga Allah mengampuni dosa2mu..
Selamat jalan, selamat menyempurnakan hidup.
Sampai jumpa lagi.
Salam y klo ketemu Bapak Melitia h,
"Bilangin klo putrinya yg umurnya sebaya sama aku, cantik sekali..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar