Salahsatu hal yang paling aku benci adalah perpisahan. Mungkin juga bagi banyak orang merasakan hal yang sama. Ya seperti judul yang tertera, anggaplah saya yang memaksakan semuanya. Ketika memori lama sekitar 19 tahun yang lalu kembali masuk ke dalam pikiran. Ketika usiran halus yang tidak sempat dipikirkan oleh otak seorang anak laki-laki polos yang baru puber. Baginya diantar menuju kediaman seseorang namun didiamkan saja mungkin dianggap sudah cukup menyenangkan. Tapi ya tetep GOBLOK. Apa ya yang saya pikirkan waktu itu? Setengah sadarkah? Buta mata hati kah? Mungkin saja. Saya pun juga telah lupa. Kalau pikiran saat ini berada di waktu itu, saya akan berkata "klo memang tidak berkenan saya berkunjung, usir saja gpp. Bukan seperti inilah caranya."
Tp dengan polosnya, diam saja, tanpa bicara. Eh, dulu dikasih minum juga engga ya? Hahaha...saya lupa. Kasian bener.
Waktu ini, iya sekarang. Agak2 miriplah. Kasian2.
Lebih baik katakan sejujurnya saja.
I'm okay.
Klo hanya diam, y percuma.
Ssstt... G usah bicara lagi. Cukup teriakan saja dalam hatimu.
Sampai jumpa kembali di waktu yang tidak terduga, bukankah akan lebih menyenangkan. Kapan y? Mbuh ra weruh.
Maaf kalau nanti terdapat pengingkaran janji kembali.
Saya tidak bermaksud begitu, namun keadaan berkata lain.
Terimakasih masa lalu. Tanpamu, saya saat ini hanya seonggok daging tanpa pikiran.
Lets the life go on.
Rock the world until we see again
Senin, 23 Juli 2018
Ketika "selamat tinggal, sampai jumpa lagi" adalah kata2 yang tepat untuk kita
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar